Sebelas Aksara Terukir, Berucap Jua
Dibibir
Lembut berkibar terurai
desiran angin bukit
Hijabmu indah terjuntai
menutup kesucian ragamu
Mulia jiwamu pun
tergambar dalam busana sopanmu
Kau melangkah tenang
tuk menjadi pejuang yang patut dikenang
Guru...........
Tak hanya sekedar sebuah
kata yang ringan tuk di sebutkan
Tak sekedar 6 huruf tuk
di pajang sebagai judul karangan
Tak sesederhana
itu......
Kau muara panutan dari
segala hal yang bisa di anut,
Muara tiruan dari
segala hal yang patut,
Muara sebaik perkara
yang layak tuk di ikut,
Nasihat kebajikan yang sering
kau sebut,
Kau muara tauladan
dipuncak kebaikan,
Muara pujian di jajaran
pahlawan.
Hari ini dunia kami
hampa, guru !
Sosokmu benar-benar tak
nampak dari pelupuk mata kami,
Bayangmu perlahan memudar
dalam pandangan,
Terekam dalam mata
batin kami, guru.
Omelan mu pagi itu bak
obat yang tertelan paksa, terasa pahit dilidah.
Namun sekejap jiwa ini
pulih sembuhlah sudah.
Siang itu kau marah,
guru.
Namun pantasnnya lisan
ini berucap “terima kasih”.
Murka auramu sekejap
membuat kami ingin cuti tuk mengenal abjad.
Lalu berkesudahan memandu
kaki kami tuk menjemput kau dari ruang kebesaranmu,
Tuk kembali memacu kami
menghujam kan mata pena pencipta abjad.
Redup auramu membuka
mata batin kami, kau tak layak kami abaikan sesaat pun.
Maaf guru, ku tak
sepandai engkau dalam merangkai senjata aksara.
Ku tak seistimewa
engkau di jajaran penyimpul kata bijak nan sarat nasehat.
Terukir kata sederhana,
berpoleskan bahasa kekanakan.
Namun, ku paham kau tak
kan menertawakan lisan bocahku, guru.
Kau memahami makna
sejuta bahasa anak-anakmu yang mengoceh membanjirimu seribu tanya.
Hanya dua untai kata
sederhana, penambah rasa.
Dua kata yang engkau
wariskan pada kami kala kebajikan kami dapat.
Dua kata yang kami
rangkai untukmu.
“Terima kasih”, guruku.
Sebelas aksara terukir,
terucap jua dibibir.
at 08-06-14
Tidak ada komentar:
Posting Komentar