Resume Buku MAHAGURU PESANTREN
(Perjalanan Hidup Ulama Legendaris Syaichona Cholil Bangkalan)
Penulis : Mokh. Syaiful Bahri
Penerbit : Erlangga
Tahun : 2015
Jumlah halaman : 162
Bagian 1 : Masa Kecil
Syaikhona Cholil Bangkalan lahir pada Hari Selasa, 14 Maret 1820 M/11 Jumadil akhir 1235 H di Bangkalan Madura. Ayah beliau bernama K.H. Abdul Lathief seorang kiai di kampung Senenan, kemayoran, Bangkalan, Madura. Silsilah ayah beliau ini tersambung sampai ke Syaikh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati Cirebon.
Nama Muhammad Cholil merupakan perpaduan nama yang di ambil dari Bahasa Arab. Kata Muhammad diambil dari nama Nabi Muhammad SAW. KH. Abdul Lathief berharap anaknya mendapat keberkahan, kemuliaan, dan keagungan Nabi Muhammad SAW. Kata "kholil" berarti kesayangan. Salah satu Nabi yang mendapat gelar Al-Cholil dari Allah SWT adalah Nabi Ibrahiim. Hal ini diterangkan dalam Q.S An-Nisa ayat 125 : "Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya". Kemungkinan besar KH.Abdul Lathief berharap agar anaknya kelak dapat meneladani kebaikan dari dua nabi sekaligus, yaitu Nabi Muhammad SAW dan Nabi Ibrahim AS.
Bagian 2 : Masa Remaja
Masa remaja Syaikhona Cholil dilewati seperti remaja pada umumnya. Beliau berguru kepada ayahnya dengan mmepelajari Islam tingkat dasar seperti Ilmu Fikih, Tauhid, Akhlak, Hisab (matematika), Tarikh, Tajwid, Tahsin, Nahwu dan Sharaf. dari sekian banyak pelajaran ini, yang sangat diminati adalah pelajaran tata bahasa Arab (Nahwu dan Sharaf) dan Fikih.
Syaikhona Kholil kemudian dikirimkan ke Pesantren Langitan Tuban yang masyhur dengan ilmu tata bahasa arabnya, yang diasuh oleh KH. Muhammad Nur,
Bagian 3 : Nyantri Di Beberapa Pesantren
Setelah beberapa tahun di Pesantren Langitan Tuban, beliau meneruskan menuntut ilmunya kepada Kiai Abu Dzarrin Winongan, Pasuruan yang terkenal dengan kealiman dan pakar ilmu tat bahsa Arab. Namun sesampai di Winongan beliau mendapat kabar bahwa Kiai Abu Dzarrin wafat. Akhirnya beliau berziarah ke Makam Kiai Abu Dzarrin dan i'tikaf di surau yang dekat dengan makam selama 41 hari. I'tikaf ini beliau isi dengan membaca Al-Qur'an, sholat, dzikir dan tawassul.
Di Pasuruan, Syaikhona Cholil kemudian nyantri di Keboncandi. Selama nyantri di Keboncandi ini beliau menyempatkan ngaji kitab-kitab (Ihya' Ulumuddin, Shahih Bukhari, dan Shahih Muslim) kepada Kiai Noerhasan bin Noerkhotim di Pesantren Sidogiri Sidoarjo. Perjalanan Keboncandi-Sidogiri yang berjarak 9 KM ditempuh dengan berjalan kaki. Dalam perjalanan beliau mengisi waktunya dengan membaca Surat Yaasin sampai khatam 41 kali, begitu juga saat pulang dari Sidogiri-keboncandi mengkhatamkan Surat Yaasin 41 kali.
Beliau melakoni hal tersebut sebagai bentuk riyadah (tirakat) dalam mencari ilmu. Menuntut ilmu dijalani dengan kerendahan hati dan kesengsaraan hidup, maka ilmu yang didapat akan berkah. Demikianlah bunyi salah satu Syair Arab : "orang yang tidak merasakan pahitnya ilmu, maka ia akan terjerumus dalam hinanya kebodohan". Beberapa ulama mengatakan bahwa Surat Yaasin memiliki keistimewaan, salah satunya mendatangkan berkah bagi para penuntut ilmu. Surat Yaasin juga disebut sebagai jantungnya Al-Qur'an.
Selain di Keboncandi dan Sidogiri, selama di Pasuruan beliau juga ngangsu kaweruh (belajar) di Pesantren Congaan Bangil.
Setelah nyantri di Pasuruan, beliau melanjutkan petualangan menuntut ilmu di Pesantren Minhajul Tullab di Genteng, Banyuwangi yang di asuh oleh Kiai Ahmad Basyar. Selama nyantri di sini beliau bekerja membantu sang kiai sebagai pemetik kelapa. Setiap 80 butir kelapa yang dipetik mendapat upah 30 sen. Uang ini ditabung karena beliau bercita-cita belajar ke tanah suci Mekkah. Selain sebagai pemetik kelapa, beliau juga merangkap sebagai khadam (pelayan) di rumah kiainya. Beberapa waktu, beliau berpamitan kepada kiainya untuk kembali pulang ke Bangkalan dan memohon restu akan cita-citanya untuk menuntut ilmu ke Mekkah.
Bagian 4 : Menuntut Ilmu ke Mekkah
Usia Syaikhona Cholil memasuki 40 tahun. Beliau sudah kembali ke rumah orang tuanya di Bangkalan. Kemudian beliau mengutarakan keinginan menuntut ilmu ke Mekkah kepada orang tuanya. Antara bahagia dan sedih yang dirasakan oleh Kiai Abdul Lathief dan istrinya. Bahagia karena anaknya memiliki cita-cita yang mulia, dan sedih karena tidak memiliki ongkos untuk diberikan kepada putranya. Syaikhona Colil kemudian mengatakan bahwa ia memiliki uang tabungan yang didapatkan saat bekerja dan nyantri di Banyuwangi. Kemudian berangkatlah beliau ke Mekkah dengan naik kapal.
Sesampainya di Mekkah beliau mencari tempat tinggal yang dekat dengan Masjidil Haram. Beliau belajar kepada para Syaikh yang bermadzhab Syafi'i. Beliau mendalami ilmu Fikih dan ilmu tasawuf. Salah satu gurunya beliau adalah Syaikh Umar Hamdan al-Mahrasiy dan Syaikh Ahmad Khatib Sambas Ibn Abdul Ghoffar.
Bagian 5 : Kembali Ke Tanah Air
Setelah kurang lebih 3 tahun (1860-1863 H) menuntut ilmu di Mekkah, kemudian beliau kembali ke Indonesia. Sesampainya di Bangkalan beliau tidak langsung mengajar, akan tetapi beliau masih memikirkan bagaimana ia bisa mengajarkan ilmunya ke masyarakat. Kemudian beliau mengisi waktunya untuk bekerja di Kantor Adipati Bangkalan. Beliau ditempatkan sebagai petugas jaga di malam hari. Karena sebagai penjaga beliau memiliki banyak waktu, beliau memiliki kebiasaan membaca kitab untuk mengisi waktunya sambil berjaga. Kebiasaan tersebut akhirnya diketahui oleh Kanjeng Adipati.
Kanjeng Adipati kemudian mengizinkan untuk membaca kitab-kitab di perpustakaan pribadinya. karena Adipati ini masih keturunan orang alim dan memiliki garis keturunan dengan Syarifah Ambami Ratu ibu yang bersambung pada Sunan Giri. Adipati kemudian menugaskan Syaikhona Cholil sebagai pengajar untuk keluarganya.
Raden Ludrapati (kerabat Adipati) sangat tertarik dengan kepribadian Syaikhona Cholil, kemduian berniat menjodohkan dengan anak gadisnya yang bernama Nyai Assek. Perniakhan pun berlangsung pada tanggal 30 rajab 1278 H (1863 M).
Bagian 6 : Mengasuh Pessantren
Sang mertua memberikan tanah sebagai hadiah pernikahan di Desa Jangkibuan. Di atas tanah tersebut beliau kemudian mendirikan rumah dan pesantren. Semakin lama santrinya bertambah banyak. Kemudian beliau menyerahkan pesantren tersebut kepada menantunya Kyai Muntaha yang talah memperistri putrinya Siti Khatimah. Beliau kemudian pindah ke Kademangan, kemudian beliau mendirikan pesantren disitu karena banyak orangtua yang mempercayakan pendidikan anaknya kepada beliau.
Mendidik Sikap Spiritual
Kepada santrinya beliau mendiidk sikap spiritual, anatra lain adalah mensucikan diri santri dari sifat egoisme. Contohnya adalah saat KH Hasyim Asyari diantar orangtuanya untuk nyantri. Syaikhona Colil kemudian memasukkan KH Kasyim Asyari kedalam kurungan ayam didepan orangtua dan santri lainnya. Hal ini juga dilakukan kepada setiap snatri yang akan menuntut ilmu kepda beliau. Tujuannya adalah untuk mensucikan para santrinya dari egoisme dan rasa tinggi hati, terutama santri yang berasal dari keluarga terpandang (ulama).
Mendidik Sikap Sosial
Pada suatu hari beliau akan kedatangan tamu. Beliau menugaskan kepada para santrinya untuk menjemput tamu untuk menguji sikap sosial santrinya. Saat itu malam-malam dan hujan deras datanglah tamu yang naik delman dan hanya berhenti agak jauh dari Pesantren, karena delman tidak bisa masuk pondok. Kyai Hasyim Asyari mau untuk menjemput tamunya walaupun jauh. Sesampainya di tempat penjemputan ternyata tamu tersebut tidak bisa berjalan, kemudian KH Hasyim Asyari menggendong tamu tersebut sebagai bentuk taat pada perintah gurunya. Sesampainya di ndalem pondok, Syiakhona Colil bekata "Ilmu saya nanti akan di gendong Haysim "Asyari ke Jombang".
Suatu waktu kabar akan nyantrinya Kiai Wahab Hasbullah sudah terdengar oleh Syaikhona Cholil Bangkalan. Beliau merencanakan menguji kesungguhan niat nyantrinya Kiai Wahab. Beberapa hari sebelum kedatangan Kiai Wahab beliau memerintahkan kepada santrinya untuk berjaga-jaga karena pondok akan kedatangan macan. Santri mengira akan kedatangan macan yang akan menikam mereka. Namun macan tak kunjung datang, yang datang malahan seorang laki-laki yang membawa koper, yang tak lain adalah Kiai Wahab. Sesampainya Kiai Wahab di halaman, Syaikhona Cholil meneriaki macan kepada Kiai Wahab dan mmerintahkan santri untuk mengepungnya. Semua santri kemudian ikut mengepungnya. Karena takut, Kyai Wahab kemudian melarikan diri untuk menghindari amukan santri. Karena niatnya nyantri sangat kuat, besuknya datang lagi dan mendapat sambutan serupa. Kiai Wahab kemudian balik. Setelah malam hari Kiai Wahab menyelinap masuk pondok dan tertidur di mushola. Kemudian didatangi Syaikhona Cholil dan diterimalah Kiai Wahab sebagai santrinya.
Kompetensi Pengetahuan
- Beliau menulis kitab Al-Matnu Asy-Syarif dan As-Sillah fi Bayani an-Nikah
- Menulis terjemahan kitab Alfiyah ibn Malik dan memberikan penjelasan pada bagian bawah bait- baitnya dengan tulisan pegon.
- Santri tidak diperkenankan boyong sebelum khatam seribu bait nazam Alfiyah Ibn Malik
Mendidik Keterampilan Esoterik
Menggembleng santri dengan ilmu batin dengan bangun malam untuk melakukan gerak batin (istighosah) yang diisi dengan sholat malam, berdzikir dan membaca Al-Qur'an. Salah satu santrinya yang masih mengamalkan gerak batin ini adalah Kiai Nawawie bin Noerhasan di Pondok Pesantren Sidogiri. Para santrinya sampai sekarang masih mengamalkan gerak batin ini di Masjid Jami' Sidogiri di atas jam 12 malam.
Bagian 7 : Integritas dan Keteladanan
a. Menuntut Ilmu Sepanjang Hayat
Beliau menuntut ilmu sejak kecil, kemudian mondok bertahun-tahun, dan ke Mekkah. Saat beliau sudah berpengaruhpun, beliau sering berkunjung ke Pesantren Tebu Ireng Jombang untuk mengikuti pengajian hadis yang diajar oleh Kiai Hasim Asyari yang merupakan mantan santrinya sendiri.
Imam Hambali semasa hidupnya selalu membawa tinta dan kertas, agar beliau bisa langsung mencatat ilmu yang ia dengarnya. Hal itu beliau lakukan sampai beruban. Saat ditanya sampai kapan engkau emmbawa wadah tinta. Beliau menjawab "Ma'al mihbaroh ilal maqbaroh" : selalu bersama wadah tinta sampai ke liang pusara.
b. Menjadi Khadam Gurunya
Hal ini dilakulan beliau saat nyantri di Bnayuwangi. Menjadi khadam merupakan salah satu cara ampuh untuk mendapat cucuran ilmu dari sang guru.
c. Merendahkan Diri Terhadap Guru
Saat ngaji di Pesantren Sidogiri beliau melepas sandalnya dalam jarak 5 kilometer dari pondoknya dnegan maksud menghormati sang guru dan masayikh yang ada di Sidogiri.
Seorang yang menuntut ilmu harus merendahkan hati, sebab jika ia merasa tinggi maka ia enggan untuk mempelajari apapun dari orang lain. Kata Imam Ghazali "ilmu tidak akan didapat kecuali dengan cara merendahkan hati".
d. Berprasangka Baik Terhadap Orang Lain
e. Menghormati Tamu
Pintu rumah beliau terbuka lebar untuk siappapun yang datang. Setiap tamu akan disuguhi makanan dan minuman.
f. Menghargai Orang Kecil
Beliau sangat mencintai orang kecil/miskin yang datang dengan tulus, dan tidak menyukai orang kaya yang mengukur sesuatu dengan materialistis.
Rasulullah bersabda :"Barang siapa menghormati orang kaya karena kekayaannya, maka hilanglah dua pertiga dari agamanya".
g. Tidak Diskriminatif
Beliau juga pernah menolong polisi yang kesulitan menangkap pencuri, residen Belanda yang dirundung masalah, dan seorang Tionghoa yang miskin.
h. Akhlaq Tasawuf
- Menjadi khadam saat nyantri
- Makan ngrowot (vegetarian) saat di Mekkah
- Terjun ke masyrakat setiap hari Jum'at dan sholat di masjid yang berada di pelosok Bangkalan
Bagian 8 : Penentu Lahirnya NU
- Atas nasihat Syaikhona Cholil, Kyai Nawawie Noerhasan Sidogiri.
- Utusan Syaikhona Cholil adalah Kyai As'ad Syamsul Arifin Situbondo
- Pembuat lambangnya Kiai Ridwan
- Lambang : awalnya gambar bumi dan sembilan bintang. Kiai Nawawie kemudian menyarankan untuk menambahkan tali yang longgar pada bumi. "Selagi tali yang mengikat bumi itu masih kuat, sampai kiamat pun NU tidak akan sirna".
- Beliau berperan dan disebut sbg bapak spiritualn NU karena andil besarnya dalam menumbuhkan tradisi tarekat, konsep kewalian, dan haul (peringatan tahunan hari kematian wali atau ulama).
Bagian 9 : Wafat dan Pemakaman
- Beliau wafat pada 24 April 1925 M/29 Ramadhan 1343 H pada usia 105 tahun.
- Duka yang mendalam bagi masyarakat Madura, Jawa, dan Nusantara. Terutama santri-santrinya. Begitu juga K.H Hasyim Asyari, Kiai Manaf Abdul Karim, Kiai M.Bisri Syansuri, Kiai Muhammad Siddiq, Kiaia Munawir Krapyak, Kiai Maksum, Kiai Abdullah Mubarok, Kiai Nawawie bin Noerhasan, Kiaia As'ad Syamsul Arifin dan K.H. Wahab Hasbullah.
Bagian 10 : Karya Tulis
1. As-Silah fi Bayanu an-Nikah (tentang pernikahan)
2. Al-Matnu Asy-Syarif (Iman & Islam, Thaharah, Istinja', Wudhu, Mandi Besar, Tayamum, Najis, Haid & Nifas, Shalat, Shalat Berjamaah, Shalat Safar, Jenazah, Zakat, Puasa, I'tikaf).
Bagian 11 : Kisah-kisah Unik
1. Mengaduk-aduk Nasi Ketika Shalat (Beliau tertawa terbahak2 saat sholat karena melihat KH.Muhammad Nur Langitan Tuban saat sholat sambil mengaduk nasi dan membawa berkat kenduren).
2. Penyakitnya Berbeda Resepnya Sama
Datang seorang petani yg gagal panen, orang yg tidak punya anak setelah menikah bertahun-tahun, pedagang yang kesusahan dalam hidupnya meminta pertolongan beliau. Resepnya disuruh mengamalkan istighfar. Hal ini berdasarkan QS. Nuh 10-12 bahwa istighfar dapat mendatangkan solusi.
3. Doa Nahwu untuk Pencuri Timun
Beliau memberikan amalan qamaa zaidun saat petani tsb datang minta pertolongan dan saat itu beliau sedang mengajar ilmu nahwu. Keesokan harinya sang petani menemukan pencuri yang tidak bisa duduk dan berdiri mematung di sawah.
4. Seribu Cholil Seribu Berkah
Cucu guru beliau di Mekkah datang dan berguru kepada beliau, yaitu Syaikh Ali bin Muhammad bin Ali Ar Rahbini. Kemudian cucunya dinikahkan dengan cucu beliau. Syaikh Ali berniat menamai anak cucunya dengan nama Cholil walaupun dikeluarganya sudah banyak mama Cholil.
5. Surat Kepada Anjing Hitam
Beliau menitip surat kepada Fulan yang akan menjalankan ibadah haji ke Mekkah untuk diberikan kepada anjing hitam. Anjing hitam tersebut ternyata seorang wali.
6. Menyambut Santri Laksana Macan
Cerita ttg KH. Wahab Hasbullah.
7. Ketinggalan Kapal Laut
Seoranf jamaah haju yg ketinggalan kapal karena di mampir di pasar untuk membelikan anggur istrinya. Kemudian orang itu meminta bantuan Syaikhona. Oleh Syaikhona orang tsb disuruh merem sambil memegang anggurnya, tiba-tiba ia sudah sampai di atas kapal.
8. Santri Mimpi Basah
Kiai Bahar yg saat itu menjadi santri beliau mimpi basah bersama istri Syaikhona. Kemudian ia dihukum karena tidak ikut jamaah subuh. Lalu disuruh pulang boyong karena beliau bilang "ilmunya dicuri sama santronya tsb".
9. Masuk Penjara Belanda
Beliau masuk penjara karena ada pejuang kemerdekaan yang sembunyi di pesantren beliau. Namun saat dicari tentara belanda pejuang kemerdekaan tersebut tidak ada. Kemudian Syaikhona lah yang ditahan di penjara. Namun sejak beliau dipenjara semua pintu tidak bisa ditutup, dan banyak masyarakat yang menengok beliau ke penjara dan membawakan makanan. Setelah kewalahan akhirnya beliau di keluarkan dari penjara.
10. Hormat Sang Residen Belanda
Sang Residen hormat karena sudah di doakan agar ia diangkat kembali menjadi residen di bangkalan.
11. Orang Arab dab Macan Tutul
Tamu orang Arab yang menegur Syaikhona karena bahasa Arabnya tidak fasih saat mengimami sholat. Kemudian org Arab tersebut di datangi macan tutul saat wudhu. Tidak bisa diusir. Namun saat yang mengusir macan tsb Syaikhona dengan bahasa Arba yang tidak terlalu fasih ternyata macan itu paham dan pergi.
12. Polisis menangkap pencuri
Syaratnya si Polisi harus minum obat urus-urus dan naik kendaraan angkotan umum. Ternyata sang polisis berhasil menangkap pencuri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar